Tampilkan postingan dengan label YPPS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YPPS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Mei 2019

7 Desa Dampingan YPPS Ikuti Diskusi Adaptasi Kekeringan

Foto: Marianus Sabon
Hari ini Sabtu, (11/052019) bertempat di aula LIBERTI, YPPS Waibalun diskusi bersama Forum PRB dan perwakilan pemdes dari 7 desa dampingan YPPS
Berdasarkan dokumen RPB Kab. Flotim ada 9 ancaman becana yang berpotensi dan bisa akan terjadi di flores timur. Salah satu dari potensi itu adalah kekeringan.
Hal ini juga ditemukan dalam diskusi bersama YPPS saat melakukan analisis sosial (ANSOS) ditujuh (7) Desa yakni Desa Kimakamak, Desa Helan Langowuyo, Desa Bedalewun dan Desa Nelelamawangi di Kab. Flores timur dan Desa Posiwatu, Desa Lerahinga dan Desa Waienga di Kab. Lembata
Kekeringan ini bukan hanya berpotensi tetapi beberapa tahun belakangan ini kekeringan menjadi ancaman serius bahkan selalu meningkat setiap tahunnya.
Akibat dari kekeringan ini menyebabkan beberapa sektor terganggu diantaranya persedian air bersih, mata pencaharian (Pertanian), serta pola penghidupan masyarakat
Hal ini mendorong Forum PRB dan Pemerintah desa untuk mengkaji serta menndorong kebijakan yang bisa beradaptasi terhadap kekeringan yang sedang terjadi baik di pemerintah desa sendiri maupun di pemerintah daerah Kabupaten Flores Timur. (Teks: Marianus Sabon)
Foto: Hendrikus Eko


Rabu, 30 Januari 2019

Talk Show dan Pameran Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial dalam Adaptasi Perubahan Iklim


Foto: Tri Buddy
Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Kabupaten Flores Timur, menyelenggarakan kegiatan Talk Show dan Pameran Gender, Disabilitas dan Inklusi Sosial dalam Adaptasi Perubahan Iklim, Rabu (30/01/2019) bertempat di aula hotel Gelekat Nara.
Hadir pada kesempatan tersebut, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan rakyat Setda Kabupaten Flores Timur, Abdur Razak Jakra, SH, selaku pejabat yang mewakili Bupati Flores Timur, Ketua YPPS Kabupaten Flores Timur, Melki Koli Baran, Ketua Tim Penggerak PKK, Ny. Lusia B. Gege Hadjon, Pimpinan OPD terkait, anggota Forkopimda Kabupaten Flores Timur, para camat, lurah dan kepala desa se Kabupaten Flores Timur dan segenap perwakilan dari semua unsur di Kabupaten Flores Timur.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Flores Timur, Abdur Razak Jakra, SH, dalam membacakan sambutan tertulis Bupati Flores Timur saat membuka kegiatan tersebut menyampaikan, Perubahan iklim dewasa ini telah menjadi sebuah topik yang diperbincangkan secara serius dalam skala global. Perhatian dunia internasional terhadap fenomena perubahan iklim global beserta dampak-dampak yang ditimbulkan olehnya, menjadi perbincangan yang selalu dikedepankan, baik pada forum-forum internasional, nasional, regional, dan bahkan lokal. Hal ini menandakan bahwa perubahan iklim, bukan sekedar fenomena saja, tetapi telah menjadi sebuah permasalahan besar yang menuntut hadirnya upaya-upaya antisipatif yang sesegera mungkin dilakukan. Karena perubahan iklim berdampak besar terhadap lingkungan, ekonomi, kesehatan, hingga kelestarian flora dan fauna.

Jumat, 25 Januari 2019

Dorong Konsumsi Produk Lokal, Pemerhati Pangan Gelar Rembug Usaha Kuliner Singkong dalam Kemasan Modern

Foto: Kawan YPPS


Sejumlah praktisi dan pemerhati pangan lokal menggelar rembug usaha kuliner berbahan tepung singkong. Pertemuan ini digelar pada Jumad (25/01/2019) bertempat di Pondok Lingkar Belajar Transformasi Sosial (LIBERTI) Waibalun. Hadir pada saat itu peserta dari desa Hokeng Jaya Kecamatan Wulanggitang, Desa Pajianian Kecamatan Adonara Barat, Desa Painapang Kecamatan Lewolema, Desa Lewobele Kecamatan Lewolema, serta desa Serinuho Kecamatan Titehena.
Di bawah tema rembug “Demi Kejayaan Pangan Lokal Flores Timur”, para petani singkong dan perajin kue saling membagikan pengalaman masing-masing. Mereka mencoba mensharingkan pengalaman dan ide guna mengubah singkong atau orang Flores Timur biasa sebut ubi kayu ini supaya mempunyai nilai jual lebih yaitu sebagai tepung pengganti terigu.
Singkong merupakan salah satu pangan lokal penduduk Flores Timur. Produk singkong Kabupaten ini pada tahun 2016 tercatat sebanyak 22 ribu ton atau sekitar 90 kilogram per kapita. Mayoritas dari produk ini dijadikan pakan untuk hewan peliharaan. Mirisnya, data konsumsi rumah tangga menyebut  belanja konsumsi bahan pangan berbasis ubi masih sangat rendah. Angka konsumsi ini bahkan masih lebih rendah daripada belanja rokok dan minuman.

Senin, 26 November 2018

Workshop Pertanian Adaptif Kekeringan Digelar YPPS


Foto: Che Guecello


Foto: Che Guecello
Foto: Che Guecello